Sepenggal Kata




Jangan hanya karenanya kau pun terluka akan hal dunia
Lupakanlah sejenak, istirahatlah! karena kau takkan mampu mengubahnya dalam sekejap
Hidupku terasa seperti mati tanpamu, Ibu ...
Biarlah kisah kita hanya aku yang mengingatnya
Dulu kita satu, tapi sekarang kita tiga .. kamu aku dan dia
Tak pernahkah terbesit dipikiranmu akan hal diriku lagi?
Kau seperti angin, yang tak bisa kulihat tapi bisa kurasakan
Jauhkanlah pikiranmu tentang diriku, lupakanlah semuanya
Terpenjara sepi rinduku hari ini, akankah kau mengerti?
Tak ada lagi tempatku mengadu akan kelam dan kejamnya dunia
Kau seperti kapal, sejenak singgah dan berlabuh kembali
Katakan tidak pada cinta, karna cinta membuatmu gila akan hal bercinta ...
Cintailah kekuranganku bukan dari kelebihanku
Orang sekarang hanya tau mencaci bukan menghargai
Hanya kau aku dan tuhan, selebihnya alam
Sekarang seseorang yang jujur sulit untuk didapat
Jika bagimu cinta itu buta, maka tuntulah cinta ke arah yang sempurna
Memang sekarang aku hanyalah menjaga jodoh seseorang
Hasrat anganku terlalu tinggi untuk mendapatkan dirimu
Kau pergi bila ku berharap dan kau datang bila kau suka terasa diri tercampakkan
Manis dibibir memutar kata, malah akulah segala penyebabnya
Andainya kita terus bersama belum tentu kita bahagia
Aku tinggalkan walau tanpa kerelaan yang nyata kau tidak berubah
Berpaling muka bila saling bertatap mata seolah kita tiada pernah saling mencinta
Tidak mungkin kulupa perjanjian kita dibawah rumpun bambu dikala bulan sedang berlalu
Rindu serindu rindunya namun engkau tak peduli lagi
Mustahil bagiku menggapai bintang dilangit menjadikan hantaran syarat miliki dirimu
Seembun pagi hati kecilmu, sehangat mentari kasih sayangmu
Dilangit kutitipkan resahku ini, dikataku berharap mampu menghalau segala  rasa gundah dihatiku
Kau telah terbakar api tanpa kau sadari
Akan kurangkai semua kata cinta dibumi ini, jadikan seikat kembang agar kau tau semua isi dihati ini
Semoga kan kau terima hasratku yang tulus untukmu
Matamu yang bening dan indah, memandangkan kosong dan tak berjiwa lagi, begitu dalam kau tenggelam tertelan luka yang tak berkesudahan
Kau selalu tak pernah bisa lupakan sejenak dia yang telah pergi
Hilangkan semua dukamu, buang semua luka dihati dan genggamlah tangaku
Cerita asmara kita yang lalu kau ungkapkan kembali, membawa segala penyesalan diri bersama cinta yang dulu
Mengapa kini kau datang mengharapkan semuanya kembali, setelah kau rusak sebelumnya hati ini
Untuk apa semua ini terjadi bila akhirnya saling menyakiti?
Ungkapkan isi hatimu hilangkan segala resah yang terkandung dalam dada selama ini
Gelora api cintaku kian membara karenamu
Cintakan selalu barsama, saling bina saling jaga
Demi cintaku padamu ke gurun ku ikut dengamu, biar pun harus berkorban jiwa dan raga
Andai dipisah laut dan pantai, tak akan goyah gelora cinta
Sinar bulan sembunyikan segala cerita yang mungkin telah kau simpan sirna dalam kelam
Singgahlah sejenak menepilah wahai tuan, berpeluh luka penuh muram kian purnalah rasa
Siapakah namamu wahai gerangan dinda bidadari dari surga? Hey kamu! arah manakah dituju? bolehkan aku melihat seri wajahmu?
Siapa gerangan si bintang siang pembawa pelipur rasa bahagia?
Adikku sayang tumpuan kasih ayah dan bunda, tempat kasih sayangku tercurah
Dibawah sinarnya bulan, sinar bulan purnama aku titipkan salam rindu untuknya
Kenikmatan apalagi hari ini yang engkau dustai, kekasih?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Kata 4

Sepenggal Kata 5

Sepenggal Kata 6